INDUSTRI perfilman Indonesia kehilangan salah satu aktor terbaiknya, Ray Sahetapy, yang meninggal dunia pada 1 April di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Ray, yang berusia 68 tahun, telah lama berjuang melawan berbagai penyakit, termasuk diabetes sejak 2017, stroke pada 2023, dan masalah paru-paru yang semakin memperburuk kondisi kesehatannya. Meski sempat dirawat di beberapa rumah sakit dan menunjukkan perbaikan sementara, pada akhirnya tubuhnya tidak mampu bertahan.
Kabar duka diketahui pertama kali disampaikan oleh putranya, Surya Sahetapy, yang melalui media sosial mengungkapkan betapa mereka akan selalu menghargai kenangan bersama sang ayah. Dalam perjalanan hidupnya, Ray dikenal sebagai sosok yang gigih dan penuh semangat.
"Selamat jalan, Ayah! @raysahetapy. We always cherish the memories of our time with you. Titip salam cinta dan kangen ke kak Gisca!" tulisnya di Instagram @suryasahetapy.
Rama Sahetapy juga membagikan kabar duka tersebut di Instagram Stories.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah berpulang ke Rahmatullah Ayah kami: Ferenc Raymond Sahetapy 68 - 1 April 2025 Pukul 21.04. Keluarga besar memohon maaf & doa. Jenazah disemayamkan di Rumah Duka Sentosa Blok C, RSPAD Gatot Subroto, Senen, Jakarta Pusat."
Meskipun kondisi kesehatannya menurun, ia tetap menunjukkan semangat hidup yang tinggi, terutama di hadapan anak-anak dan keluarga. Putra bungsunya, Raya Sahetapy, mengenang ayahnya sebagai pribadi yang tidak hanya bijaksana, tetapi juga sangat ahli dalam menjalin silaturahmi dengan siapa pun.
Meskipun sempat mengungkapkan keinginan untuk dimakamkan di Sulawesi, tanah kelahiran keluarga besar Sahetapy, keluarga akhirnya memutuskan untuk menguburkan jenazah Ray di Tanah Kusir, Jakarta, dengan pertimbangan agar makamnya mudah dijangkau dan terawat dengan baik.
Ferenc Raymond Sahetapy yang telah mengukir karier lebih dari empat dekade dalam dunia perfilman Indonesia, dikenal lewat berbagai film ikonik. Ia meraih tujuh nominasi Piala Citra FFI sepanjang kariernya dan tampil dalam film internasional Captain America: Civil War (2016), meski adegannya tidak masuk dalam versi final. Kiprah dan dedikasinya dalam dunia seni peran akan selalu dikenang.
Kepergian ayah dari Gizca Puteri Agustina Sahetapy, Rama Putra Sahetapy, Panji Surya Sahetapy, dan Mohammad Raya Sahetapy itu meninggalkan duka mendalam di hati keluarga, sahabat, dan penggemarnya. Selama lebih dari empat dekade, Ray Sahetapy telah menjadi bagian tak terpisahkan dari industri perfilman Indonesia, dengan kiprah yang tak hanya mengesankan, tetapi juga menginspirasi banyak generasi.
Ray memulai karier aktingnya pada era 80-an dan sejak itu tak pernah berhenti berkarya. Ia dikenal luas lewat kemampuan aktingnya yang luar biasa, mampu memerankan berbagai karakter dengan kedalaman emosi yang menggetarkan hati. Sejumlah film populer seperti Keluarga Cemara, The Raid, hingga Filosofi Kopi menjadi bukti nyata kehebatannya di dunia seni peran. Dengan wajah yang tak asing lagi, Ray sering kali dipercaya untuk memerankan karakter-karakter yang kuat dan penuh makna, menjadikannya salah satu aktor senior yang paling dihormati di Indonesia.
Kehilangan Ray Sahetapy menyisakan duka mendalam bagi banyak orang, terutama rekan-rekannya di dunia perfilman. Banyak artis, seperti Iko Uwais, Deddy Mizwar, Tio Pakusadewo, Tissa Biani, Idris Sardi, juga Dewi Yull, menyampaikan belasungkawa dan mengenang kebaikan serta profesionalismenya. Ray Sahetapy bukan hanya dikenal sebagai aktor, tetapi juga sebagai sosok yang penuh kasih dan teladan bagi keluarga dan teman-temannya.
KOMENTAR ANDA